Selasa, 18 Juni 2013

WE GOT MARRIED – Part 5 Ending




WE GOT MARRIED part 5
Cast : Yuri, Simon, (other cast)
Rating : PG – Terserah readers
Length : Chap
Genre : Romance, tegang, gaje

++++++++
Part Before-
“TUNGGU DULU! AKU TIDAK MENYETUJUI PERNIKAHAN MEREKA!” ucap seorang yeoja, dan semua orang menatap yeoja itu.
Last Part (NOW)
“Siapa kau?! Dan Apa maksudmu tidak menyetujui pernikahan ini?!” Min berdiri dgn kesal.
“Siapa kau? Dan apa maksudku? Aku datang kesini karena tidak setuju Simon Oppaku menikah dengan Yeoja lain..” Ucap Krystal dengan nada mengejek.
“Memangnya kau siapanya, Hah?!” Min menahan emosinya, jangan bertengkar di dalam gereja pikirnya.
“Aku? Siapanya? Tentu saja yeojachingunya Simon”
Mata Yuri dan Min membulat, Simon menatap Krystal dengan tatapan dendam.
“Ayo Jagi~ lebih baik kau menikah denganku.. Minggir kau!” Krystal menggendong lengan Simon, kemudian ia mendorong Yuri hingga jatuh.
“Yuri !” Tiba tiba Min sudah berada di belakang Yuri.
“Gwenchanayo ?” Pertanyaan itu hanya dijawab anggukan oleh Yuri.
“KAU! APAKAH KAU LAYAK DISEBUT YEOJACHINGUNYA SIMON HAH?!” Suara Min kini terasa Emosi.
“Memangnya kau siapanya sih? Lagi pula kau bukan siapa siapanya..” ucap Krystal masih dengan nada mengejek.
PLAK
Sebuah tamparan keras yang didapatkan Krystal, ia menengok kesebelahnya.
Simon menampar Krystal keras, itu membuat semua orang yg ada di gereja menatap 4 orang di altar.
“K..Kau.. jangan berani beraninya dengan Yuri dan Min!” umpat Simon kemudian menghempaskan lengan Krystal kasar.
“Oh! Jadi begitu ya?! Oppa SELINGKUH dariku?!” Krystal mengelus pipinya yang memerah.
“Memangnya aku takut padamu, HAH?!” Simon menatap Krystal tajam.
“Tentu saja.. harusnya kau takut” Krystal bersiap siap memberikan bogem mentah untuk Simon, tetapi dicegat Oleh Yuri.
“Hentikan itu Krystal Jung.. atau kau nyari mati kepada kita berdua” Yuri mulai angkat bicara.
“Panggil aku Mrs Park… Pendeta tolong nikahkan aku dengan Park Simon” Krystal berbalik arah ke Pendeta, sang pendeta bingung. Akhirnya pendeta itu mengangguk.
Sebelum mereka menikah, Min lebih dahulu menarik tubuh Krystal hingga jatuh dari altar.
Darah keluar dari bibirnya Krystal, “Sialan kau!” umpat Krystal.
“Kau bukan siapa siapanya Simon, dan kau tetap seorang KRYSTAL JUNG atau lebih disebut JUNG SOOJUNG. Bukan PARK SOOJUNG ataupun PARK KRYSTAL Mengerti?!” Min duduk diatas tubuh Krystal, sebenarnya jongkok sih..
“Untuk masalah siapanya Simon, aku adalah tunangannya. Aku dan dia sudah bertunangan sebelum kalian jadian. Dan aku bukan Krystal Jung, tetapi Park Krystal”
“TIDAK KRYSTAL! KAU BUKANLAH SIAPA SIAPA DARI KELUARGAKU, SEKARANG KITA PUTUS DAN TIDAK ADA HUBUNGAN APAPUN! MAU TEMAN SAMPAI KEKASIH, DAN KITA ADALAH MUSUH!” Simon menarik Min dari tubuh Krystal.
“Oppa~” Krystal menggunakan Puppy eyesnya agar Simon tidak memutusinya.
“Tunggu!” ke-5 yang ada di altar + semua orang menengok kearah suara.
“Krystal Jung, Simon menikah karena janji aku dan temanku, Kwon Jiyong!” ternyata itu Seunghyun atau Appanya Minho.
“Seunghyun appa..” Simon tersenyum
“Ya! Dan Park Simon  menikah dengan Kwon Yuri, bukan Krystal Jung” lanjut Jiyong appanya Yuri sambil menatap sinis ke Krystal.
Krystal berdiri, “Awas aja kalian semua.. aku akan kembali” ucapnya kasar lalu pergi dari gereja.
“Baiklah.. bisa kita lanjutkan?”Jiyong dan Seunghyun berdiri dari kursinya, semua bertepuk tangan ricuh. Pernikahan Simon dan Yuri sukses 90% (Karena Krystal jadi berkurang 10%)
“Kau boleh mencium istrimu..” ucap pendeta kepada Simon, ia menelan ludahnya.
Mencium? Pikirnya.
Kemudian wajahnya mendekat ke wajah yuri, “Psst.. hanya sebentar oke, dan ngga nyentuh!” bisik Yuri sedikit kesal, “ne”
CUP~ bibir mereka tersentuh dalam 1 detik.
“Dan satu lagi pendeta..” Simon menatap pendeta penuh harapan
“Apa itu tuan Park?”
“Aku mohon jadikan Min sebagai adik tiriku..”
Semua mata menuju arah Simon, “Waeyo? Kami pernah berpacaran, dan…. aku mau ia menjadi yeodongsaengku” Simon menaikan sebelah alisnya.
“assiiik~” Min meloncat riang, kemudian ia memeluk Simon.
Simon tersenyum dan membalas pelukan Min, Yuri tersenyum melihat tingkah mereka.
Semua orang bertepuk tangan meriah. Sudah waktunya untuk melempar bunga.
“Hana.. Dul.. set!” Yuri melemparkan sebuket bunga putih ke semua orang.
“Aku dapat~ aku dapat~” HUP
Tepat bunga itu mendarat di dua pasang tangan, Donghae dan YoonA.
Donghae dan Yoona saling berpandangan.
“Yoong~ sepertinya kau harus menikah juga! hahaha~” ejek Yuri yang melihat Yoona dan Donghae berpegangan.
Donghae malah salah tingkah, “Woy, hyung! Jangan Sal-ting dong! Hahaha” Simon menjulurkan lidahnya.
“Eh?” Donghae dan Yoona hanya garuk garuk kepala.
Donghae tersenyum, ia melirik lirik Yoona.
“Hyung~ cepatlah jadian~ Pjnya kutunggu ya~” (Pj : Pajak Jadian) Simon tersenyum evil.
“Arrr.. dasar kau dongsaeng mata duitan!” Gumam Donghae kesal.
+++++++++
Yuri berjalan sambil tersenyum di trotoar tengah kota seoul.
Seorang namja berhenti tepat didepannya, “Kenapa kau menghilang dari hidupku?”
Mendengar suara itu mata Yuri membulat, “bukankah kita sudah putus? Pantaslah aku untuk menghilang” ucap Yuri dingin.
“K..kumohon.. katakan! Kenapa kau menghilang dari hidupku?!” namja itu memegang pundak Yuri.
“Siwon-a~ Lo… Gue… End, oke?” Yuri menghempaskan tangan Siwon dan kembali berjalan dengan tenang.
“YURI-A! SARANGHAE~” Siwon berteriak kencang, semua orang melihatnya dan menganggap ‘dasar orang gila’ (Astaga tu orang ngga tau ya kalau dia Siwon Super Junior? -_-a)
“Simpanlah kata ‘saranghae’mu untuk kekasih mu Won! Hwang Tiffany!!” ucap Yuri keras saat sudah jauh dari Siwon.
+Ending+

We got married part 4




WE GOT MARRIED –
Cast : Yuri, Simon, ,(other cast)
Genre : Romance, Sadly,Happy
Length : Chaptered

++++++

Part Before….
“Itu bukannya, Simon dan Tiffani ya?”
Now, Part IV
“Yoon, lebih baik kita cepat cepat beli dan pergi dari sini..” kutarik lenganya, Air mataku hampir terjatuh.
“Baiklah, beli warna biru tadi?” tanyanya, aku mengangguk. Kemudian mencoba dress itu, membayarnya dan pergi.
“Yul, sebenarnya ada yang perlu kau ketahui..” Yoona memberhentikan mobilnya, “Apa itu?” tanyaku dengan nada terisak.
“Siwon itu… sudah punya kekasih” Mendengar kata itu, air mataku turun semua.
“Dan kekasihnya itu… Yeoja yang kamu lihat, ia bernama Hwang Tiffany”
+++++++++++++
Simon POV
“Oppa~ kau sedang melakukan apa?” tanya Krystal asal masuk keamarku,
Aku yang sedang melihat foto Min dan Yuri, segera saja ku umpetin.
“Sial” gumamku pelan, “Oppa~”
“Ngga ngapa ngapain kok”
“Bohong!”
“Beneran deh Krystal~” Ucapku dengan nada ragu, “Arraseo~” ia tersenyum dan keluar.
“Hufft.. untung saja” kukeluarkan lagi photo tadi . BRAK
“Tuhkan! Oppa Bohong!!” matilah aku.
“Hehehe, Mana?” tanyaku sedikit terkekeh, “Huft..” ia keluar dari kamarku dgn muka jutek.
Tok Tok~
“Simon-ah~ Bersiap siaplah.. Kita akan pergi ke rumah keluarga Kwon” Eomma masuk kekamarku.
“Ne..” Kuganti bajuku
“Hanseom” ucap appa ku masuk, “Ayo nak.. kita pergi”
“Tapi Jung bersaudara bagaimana?”
“Mereka akan tinggal disini”
“Ohh..” ku tinggalkan kamarku menuju mobil, bisa dibilang X-Trail.
Kutatap langit Seoul dimalam hari, bukannya indah tetapi asap asap mobil kelihatan.
Mobil berhenti tepat didepan rumah Keluarga Kwon, Appaku memencet bell rumah ini.
“Annyeong, oh.. silahkan tuan” Pelayan itu menyuruh keluarga kami masuk, Wow. Rumah ini besar juga ya.
Kami duduk dikursi ruang tamu, tak berapa lama Kwon ahjussi duduk diruang tamu.
“Annyeong haseyo” ucapnya sambil tersenyum, “Jiyong-a~ Ini anakku, si Park Simon. Yang ini Park Sooyoung, ia Park Minho, dan ini Istriku, Park Kyunghan”
“Seunghyun-a, ternyata anakmu tampan sekali.. ini istriku, Kwon Ga-ri, anak laki''ku Kwon Yura  dan..”
Seorang yeoja turun dari tangga, “KAU??!!!” Ia berdecak kesal sambil menunjukku.
“Annyeong haseyo Yuri ah~” ku-wink­ kan mataku, “Yul, jangan bersikap begitu pada calon suamimu..  Ini anak perempuanku Kwon Yuri”
Yuri menundukkan kepalanya, “Mianhamnida” ia tersenyum. Aigoo~ Senyumannya benar benar seperti Angel
++++++++++
Yuri POV
Kuturuni tangga ini, kulihat namja yang duduk dan ternyata… “KAU??!!!” Kutunjuk pada orangnya, Aiggoo! Iakah namja yang akan menjadi suamiku?!?
“Annyeong haseyo yuri ah~” matanya berkedip, ish! Tatapan maut!!
“Yul, jangan bersikap begitu pada calon suamimu… ini anak perempuanku Kwon Yuri” Appa… what happened with you?! Kenapa aku harus dijodohkan dengan namja ini?! Dan kenapa tidak… Ah Aniyo! Jangan Choi Siwon!!
Kutundukkan kepalaku, “Mianhamnida” kemudian tersenyum-yang-dipaksakan
“kajja~ Kita makan malam..” ucap eommaku sopan, huh!
Kulahap makanku, berhati hati agar tidak berantakan.
“Bagaimana kalau mereka kita nikahkan bulan depan?”
“MWO?!” ucapku dan Simon berbarengan, Kami saling menengok.
Kedua orang tua kami tersenyum, kuhempaskan nafasku.
“Baiklah…”
+++++++++
Kupegang surat berwarna pink ini, tertulis nama yang dahulu kucintai, tetapi sekarang.. harus kubenci.
Choi Siwon
Kulihat wajahnya dengan segera kuberlari kearahnya, “Siwon!!”
“wae jagi~? Kau tidak memanggilku seperti biasanya..”
“Ini, dan satu lagi..” Kuberikan surat itu dan menamparnya, air mataku kini jatuh. Segera aku pergi dari sini.
Kuhapus air mataku, kudengar Siwon meneriaki namaku.
Maaf oppa, sudah waktunya aku berpisah denganmu.
+++++++++++
Simon POV
“Yobosseo”
“Ne? Simon-a~ Bogoshippo~”
“Nado Bogoshippo, Min-ie~” ucapku sambil tersenyum, kangen sekali suaranya ini.
“Ada apa oppa menelphoneku?”
“k..kita harus berpisah Min-a~”
“Oppa, sekarang bukan april mop”
“Aku tidak bohong Min-a~”
“Oppa, katakan kau sedang bercanda!”
“Min-a… aku tidak bercanda” Handphone yang kupegang terasa bergetar, setetes air mata mengalir dimataku.
“Kalau kau tidak bercanda.. katakan 1 alasan kenapa kau mengakhiri hubungan kita” Pintanya dengan nada bergetar.
“Aku tidak bisa memberikan alasan itu… Min-a. Aku takut kau marah..”
“Aku tidak akan marah oppa”
“Baiklah.. Aku dijodohkan dengan seorang yeoja, namanya Kwon Yuri.. Jebal Min, jangan marah padaku”
“Oppa… aku kenal Kwon Yuri.. Tenang oppa.. aku tidak akan marah padamu, tetapi aku akan mendukungmu~”
“G..gamsahamnida Min-a~”
“Cheonmaneyo oppa..”
Tuuut~
Kututup wajahku dengan bantal, Hufft… andai saja aku tidak dijodohkan, mungkin aku akan hidup bahagia dengan min.
“Oppa~”Bagus, sekarang suara yang kubenci tambah merusak hidupku.
“Oppa~ Gwenchanayo?”
Aku menggeleng, tangan Krystal menyentuh dahiku. “Kau tidak panas… Ta-“
“Diamlah, dan keluar dari kamarku!” bentakku pelan, ia menunduk. “Arraso”
 yeoja itu membuat aku nambah ngak mood aja lebih baik aku pergi ke studio dance untuk mengghilangkan stress ku * Simon beranjak kluar dan pergi dari rumahnya *
+++++++++++++++++++
Yuri POV
Tok Tok Tok
“Annyeong” kutundukkan badanku, “Yuri?” seorang didepanku kaget dengan kedatanganku.
“Min eonni, aku mau berkunjung boleh?”
“Ne.. silahkan masuk..”
“Gamsahamnida” kumasuki rumahnya yg tercukup mewah itu, “duduklah.. ada apa kau berkunjung kesini?” tanyanya sambil duduk.
“Aku mau Tanya . apakah benar kamu dan Simon dijodohkan?”
Pertanyaan itu membuat Yuri kaget, ia mengangguk pelan. “Memang… sialnya nasibku, harus dijodohkan dengan namja genit seperti dia”
“yuri-ah~.. jangan menyebutnya namja genit… ia namja yang baik, dan kalian sangat cocok bagiku”
“unnie-.. ia namjachingumu kan?”
“walaupun begitu, aku dukung hubungan kalian berdua..”
“Gamsahamnida yuri ah~” Min eonni memelukku, “Ne, Cheonmaneyo~”
“Eonni~ aku harus pulang, Permisi..” ucapku lalu meninggalkan rumah Min eonni.
Simon-a~ Yuri ~ ah, semoga hubungan kalian lancar ya..
++++++++++
Author POV
Berjalannya waktu sangat cepat, sehingga sekarang sudah waktunya pernikahan Minho dan Yuri.
“Yuri-a~ kajja semua sudah menunggu” Eomma Yuri masuk ke ruang ganti.
“Ne eomma” Yuri tertunuduk, kemudian mereka berjalan ke altar.
Di altar sudah ada Simon yang tersenyum, di altar mereka berdua berpegangan.
Semua pernikahan mereka hampir selesai, kecuali..
“TUNGGU DULU! AKU TIDAK MENYETUJUI PERNIKAHAN MEREKA!” ucap seorang yeoja, dan semua orang menatap yeoja itu.
+TBC+

We got married part 3




WE GOT MARRIED
Cast : Yuri, Simon, (other cast)
Genre : Romance
Length : Chaptere

++++++++

Sakit, tubuhku sakit.. aku dapat merasakan kerasnya aspal jalanan.
“Yuri-a!!!~” terdengar suara Siwon menangis, tetapi aku tidak dapat mendengar nya dgn SANGAT jelas.
“op.pppa.a...” Semua pandanganku menggelap, dan Gelap.
++++++++
Kubuka mataku, terasa berat sekali. Putih.. putih… dimana aku?
Kulihat lengan kananku tertancap infus,hidungku +mulut dengan alat bantuan pernafasan.
Dan aku juga melihat diluar ruangan ini, ada Siwon memeluk seorang yeoja. Kemudian ia mencium bibir yeoja itu sebentar.
Bulir demi bulir air mataku turun. Kuusap bulir air mata yg menurun dengan tangan kiriku.
“Jagi~ kau menakutiku” Siwon datang keruanganku, ia memegang erat tangan kiriku.
“aku takut kau mati..” aku mati, kau memiliki pengganti babo.
“Yuri-a!” terdengar suara yang tidak asing, Sooyoung dan Yura masuk keruang rawatku.
“noona..bagaimana bisa kau masuk kerumah sakit?” tanyanya kaku, Siwon menjawab “ia tertabrak mobil… kemarin”
“Annyeong~” suara ini… entah kenapa aku merindukannya. Padahal baru kemarin kami ketemu.
“Simon-oppa?”
“Aku mau menjenguk Yuri Boleh?” tanyanya sopan, aku tersenyum.
“Yuri a~ jangan kau mati ya.. Semua pasti sedih, aku doain semoga kau sembuh” ucapnya tulus.
Gomawo oppa~ Kau namja yang baik.
++++++++++++
Simon POV
Nothing over nothing over ~
Terdengar suara Hpku berbunyi, “Noona, Hyung aku keluar sebentar ya” izinku.
Kulihat di handphoneku, tertulis… –Eomma Calling-
“Yobosseo eomma?”
“Simon ,a~ Tolong jemput anak Jung ahjussi ya dibandara, ia sekarang bersama eonninya. Untuk pulang”
“Tap..-“
Tuuut~
“Sial!” gumamku pelan, kini aku berjalan keluar untuk menjeput anaknya Jung ahjussi.
Tapi… bagaimana Yuri ? Nanti saja deh..
+++++++++
“Ya! Dimana anak Jung ahjussi?!” mataku mencari sekeliling bandara ini.
“Simon-a!!!” seorang yeoja berlari dan memelukku, “K..Krystal?” tanyaku gugup.
“Oppa~ Ne, ini aku Krystal~ Oppa, ini eonniku.. Jessica Jung” ucapnya sambil menunjuk ke yeoja yang lebih dewasa dan bijaksana.
“Annyeong, jineun Jessica Jung imnida” ia menunduk, “Park Simon imnida..”
“Oppa~ Apa kau masih ingat dulu kita pernah pacaran dan belum putus, dan dimana cincin jadian kita?” tanyanya sambil menoleh ke jari manisku.
Mampuslah aku.. Eomma~ Appa~ TOLONG AKUU!!
“Ehm..a.aku lupa makainya jagi~” Ucapku kaku, “Ohh.. yasudah kalau mau ketemuan kamu harus pake ya~”
“n..ne”
++++++++
Aku mengantar Kedua anak Jung kerumah, “Uwaa.. Krystal Jessica~ Selamat datang” sahut eommaku.
“Ahjumma~ Ahjussi dimana?” Tanya krystal yang mencari appaku.
“Ahjussi lagi kerja sayang.. kau tunggu saja ya, Ohya kamu sama eonnimu tidur di lantai 2 dulu ya..”
Krystal mengangguk kemudian berjalan menuju lantai 2, Jessica noona mengikutinya.
“Eomma, apa kau yakin mereka boleh menginap disini?!” tanyaku sedikit kesal saat mereka diatas.
“Sudahlah Simon-a~ biarkan mereka disini sementara”
“T..tapi Krystal nanti.. bisa bisa dia masuk kekamarku eomma”
Eommaku hanya tersenyum kecil, “Huh!”
++++++++++++++
Author POV
Park Office
“hahaha~ Jiyong-a, kau memang hebat untuk bercanda.. Ngomong ngomong kau sudah memiliki anak?” Seunghyun bertanya ada Jiyong.
“Ne, anakku yeoja dan bernama Kwon Yuri dan adiknya namja Kwon Yura”
“Wow, bagaimana kalau kita jodohkan anak perempuan mu dgn anakku? Soalnya anakku namja, Park Simon ” tawar Seunghyun pada Jiyong.
Jiyong Berpikir sejenak, “Boleh juga, sekalian dulu aku pernah berhutang padamu”
“Ne~ tentu saja.. Kita harus bilang dahulu pada anak kita dahulu. “Ne”
++++++++++++++++
Yuri POV
Sudah beberapa hari ini aku masuk kerumah sakit, sekarang aku boleh pulang.
“Nonna~ Bogoshippo~ kemana saja kau? Eomma dan Appa sudah pulang!” Yura berjalan didepanku.
“Mwo?” mataku membulat, eomma dan appa sudah pulang.
“Yuri-a~” eommaku menatapku rindu, ia memelukku dan menangis. “Bogoshippo Yuri-a~”
“Nado eomma~”
“Kemana saja kau?” tanya appa dari dapur, “A..aku abis dari rumah yoona.. aku menginap sebentar dirumahnya” ucapku berbohong.
“Oh, yasudah~ kalau begitu mandilah nak.. Nanti kita makan, eomma dan appa harus mengatakan sesuatu”
“Ne” kulangkahkan kakiku menuju kamarku, huaaa. Kangen sekali bau harum kamarku, berbeda dengan ruang rawat di rumah sakit!
Kulihat bingkai foto, disana ada aku dan Siwon. Ia merangkul pundakku, entah kenapa aku mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
Dadaku kini sesak, hh.. lebih baik aku mandi dahulu.
+++++++++
Author POV
“Jiyong-ie~ apa kau yakin akan menjodohkan Yuri dengan anak keluarga Park?” Tanya eomma Yuri, Park Kwon Bom
“Ne Bom-ie~ aku lihat foto anak Seunghyun, ganteng dan halus kok” Jiyong mengacak rambut istrinya, “Nyonya.. Tuan.. makanan sudah siap”
“Ne” Jiyong berjalan dahulu ke meja makan. Sedangkan istrinya memanggil Yuri. “Yuri-a! Kau sudah selesai?! Ayo cepaat~ nanti makananmu diabisin ama Yura!”
Tak beberapa lama Yuri dan eommanya datang ke meja makan, Yura sudah makan lebih dahulu. Yang tersisa hanyalah eomma, appa, dan Yuri.
“Eomma, appa apa yang kalian ingin bicarakan?” Tanya Yeoja berambut coklat itu To The Point.
“Ehm, begini.. kau pasti kenal Seunghyun ahjussi kan?”
Yuri mengangguk, “Nah, ia punya anak… kau akan dijodohkan dengan anaknya..”
“MWO? T..tapi” hampir saja makanan yg ada dimulut yuri keluar semua.
“Mianhe Yuri-a~ Kami sudah membulatkan keputusan kami, mereka sekeluarga akan datang besok malam”
“Huh…” Yuri menghembuskan nafasnya, kemudian menyelesaikan makanannya dan pergi kekamar.
-1 Comming Message-
From : Choi Siwon
Jagi~ Kau sudah makan? Kalau belum, makan dahulu ya~
GOOD NIGHT Jagi-a~ CHU~
Setelah membaca pesan dari Siwon,Yuri memegang dadanya yg sakit.
Kemudian ia beranjak tidur.
++++++++
Yuri bangun dari tidurnya, ia menguap lebar. “Hoaaamm..” kemudian ia beranjak ke kamar mandi.
Setelah mandi ia segera turun ke ruang makan, “Pagi eomma” tanpa basa basi ia langsung melahap sarapan yg disediakan.
“Pagi Yuri-a~ Yul, hari ini kau pergi bersama Yoona ke Glamings untuk beli dress nanti malam ya” aku sedikit tersentak, Yoona? Dress nanti malam?
“Ne” ucap Yuri malas, ia ambil Handphonenya dan berjalan menuju garden. “Yobosseo”
“Ini Yoona-ssi?”
“Ne, ini Yoona.. anda siapa ya?”
“Aku Yuri, Yoong mau menemaniku beli dress baru tidak?”
“Ya! Ada apa dengan suara mu Yul? Boleh aja, akan kujemput kau”
“Ne” Yuri menutup telphonenya, kemudian ia bersiap siap untuk pergi.
+++++++
Yuri POV
Ting Tong~
Kubuka pintu rumahku, Yoona berdiri manis dihadapanku. “Kau siap?” tanyanya memberikan senyuman.
Aku mengangguk, Kami berdua pergi ke Glamings. Toko dress termahal, entah kenapa eommaku menyuruh beli dress disana.
“Beli dimana Yul?”
Glamings, Eommaku yang suruh”
Dengan mendadak ia memberhentikan mobilnya, “G..Glamings? kau yakin? Itukan butik TERMAHAL di Seoul?”
Aku mengangguk, “Arasso~”
++++++
Aku sedikit menganga saat berada di toko ini, semua dress ini mewah dan terkesan mahal.
“Yoong, kau kan kalau masalah baju handal.. Tolong ya carikan baju untukku yang cocok” ucapku sambil tersenyum, ia mengangguk.
“Yuri-a~ bagaimana kalau warna biru saphire ini?” ia menunjukkan sebuah dress, aku tersenyum kemudian berjalan kearahnya. “Bagus kok~”
“Tapi harganya 1,5 juta won.. kau yakin?”
“Kita lihat lagi yang lain..” mataku mencari sekeliling baju yang indah.
Pandanganku terhenti saat melihat Siwon sedang bersama yeoja, senyumannya sangat merekah.
“Yul, waeyo?” Yoona memegang pundakku, ia melihat apa yang kulihat.
“Itu bukannya, Siwon dan Tiffany ya?”
+TBC+

We got Married part 2


WE GOT MARRIED
Cast : Yuri, Simon, and(Other Cast)
Length : Chapter
Genre : Romantic, Happy, and Sad


Yuri POV
Aku sedang berada dirumah Sooyoung, untuk mengerjakan tugas kerja sama, sekalian disuruh ama Choi songsaenim buat ngasih data sekolahku ke Minho oppa.
“Sooyoung-a~ liat Minho oppa ngga? Ada urusan penting nih!” Tanyaku ke Sooyoung, adiknya Monho.
“Eh? Minho? Hmm… dia dikantor, wae Yul?” itulah kebiasaan Soo, dia ngga mau manggil yg lebih tua dengan sebutan ‘Oppa’ atau ‘eonni’ ==”
“Aku mau ngasih kertas data sekolah” Kutunjukkan kertas itu. Ia hanya bisa membulatkan bibirnya.
“Aku pulang! Sooyoung , Minho Hyung!” terdengar suara namja masuk, aku dan Soo menoleh.
NAMJA ITU LAGIII??!!!
“Ah, Simon-a! Yul, kenalkan ini Simon kakaku sepupuku., nie Yul. temannya aku.”
“Aku tau dia itu junior di universitas , Dia adalah Kwon Yuri ~ Simon mengedipkan matanya kepadaku. Ah, sialan namja ini!!
“Oh, yasudah kalau sudah kenal.. Eh, Ho. Sini deh.. menurutmu bagaimana?” Sooyoung mengangkat Tugas kami. “Warnanya cukup bagus, tetapi perlu dirapiin dikit tuh! Kenapa ngga pake Photoshop aja ?”
Ternyata, namja ini ahli di bidang kesenian T.T
“Males ~ Buat tugas sekolah ngedit gambar pake PS. Aku juga udah ngga tau cara makenya, udah lupa hehe..”
Simon menggeleng geleng, “Ah, Yul.. kau tunggu disini ya, aku mau beli minuman dahulu” Sooyoung mengagetkanku.
Tunggu disini? Berdua dengan namja sialan itu? Oh no!
Klik
Sooyoung benar benar jahat!!
“Yaa, Yuri~ hanya ada kita berdua.. Ehm, Qmu cantik deh~” Mulailah jurus maut Simon.
“Bodo amat”
“ihh, kok- kamu ngomong gitu ke senior mu “ omonganya terpotong dari teleponku yg berbunyi.
i got boy meotjin i got boy chakhan i got boy awesome boy Wanjeon banhaet na bwa~
-Choi SiwonCalling!-
“Yobosseo? Ah, Oppa~ ne.. ne.. arasso! Aku segera kesana!” ucapku gembira, hari ini Siwon mengajakku dating, yeaahh!!
“kamu kenapa, kok mukanya seneng banget?” terlihat wajah sedih dari Simon. Ya, kenapa namja ini?!
“Aku diajak ama Siwon untuk dating~ Eum, Ho.. bilangin Sooyoung kalau aku pulang buat bersiap siap ya! Byee~” kuambil tasku kemudian berjalan menuju rumah.
Simon POV
Dia pulang, sayang banget.. padahal yeoja itu cantik juga..
Drrt drrt
-1 coming Message-
From : Min
Oppa, mau lagi ngak sibuk? Kalau ngak, temani aku membeli baju yah ~
Aku tersenyum sendiri melihat Message yg diberi Min.
Sekarang sudah jam 1, lebih baik aku mandi dan ganti baju..
Eum, ngomong ngomong.. tadi Yuri  bilang, mau dating bersama Siwon hyung?
Mendadak hatiku sakit teriris iris, ada apa padaku? Padahal aku sudah memiliki Min!
+++++++++++
Yuri POV
Sampai dirumah, segera kubuka lemari pakaianku. Eum, pake apa ya?
“Noona~” seseorang membuka pintu kamarku, aku sedikit kaget.
“Ya! Kwon Yura! Jangan mengagetkanku!!” ucapku kesal, ia hanya bisa cengengesan.
“Hehehe, Mianhe noona. Mau kemana? Kok lemari berantakan sekali??”
“Aku? Kau pasti kenal Choi Siwon kan..”
“Ne, tentu saja aku kenal”
“Nah, dia sekarang namjachinguku Yura~ kami akan dating!” ucapku penuh semangat.
“Wuaaah? Jangan lupa nonn! Aku nitip oleh oleh :d” ucapnya mendadak, mataku membulat “Mwo?! Ya! Kau ini Salah gaul ya?? Kalau oleh oleh minta sama Appa dan Eomma sebelum balik ke Korea!!” ucapku menjitak kepalanya.
“Hehehe~ sakit tau!” ia mengusap kepalanya, tetapi aku masih belum dapet baju yg cocok nih! ==”
“Ah, nonn! Daripada ribet kau gunakan pakian Casual aja.. tetapi warnanya jgn nabrak, natural seperti kulit nonn! Warna Putih hitam cocok” Yura memberiku saran, lumayan juga anak ini.walaupun dia namja tapi dia hebat juga dalam fashion..
Entah kenapa dari tadi mana keahlianku ya? Saat dirumah Sooyoung, Simon pinter dalam kesenian. Dirumah, Yura pinter Fashion. Huh, pinter apa aku ini? Pinter bohong kah?!
igot awesome boy Wanjeon banhaet na bwa *PastiPadaTauXD*)
~ 1 Message~
From : Siwon Oppa
Yuri-a~ Dimana kau? Lama sekali! Cepaatlaah~
“Dasar, ngga mau nunggu!”
++++++++
Tok Tok
“Ya! Lama sekali kau ini!” Cetus Siwon oppa, terlihat mukanya mulai Jutek. “Hhihi, mukamu aneh oppa.. Ayo kita pergi! Ngomong ngomong naik apa?”
“Jalan kaki”
“MWO?!”
“Hahaha ngga lah, naik motor.. Kajja!” ia menarik lenganku, sampailah kami di Motornya Siwon yg super keren
Kami berdua pergi ke Mall yg ada di seoul.
Tatapanku terhenti saat melihat jaket yang cute. Siwon menengok kemudian melihat barang yg kulihat. “Kau mau itu?” tanyanya sambil menunjuk Jaket Cute.
Aku mengangguk kecil, “Kajja! Kubelikan!” ia menarik lenganku menuju toko yang menjual jaket itu.
“Annyeong Agasshi~ ada yg perlu saya bantu?” Tanya sang pelayan(??) , “Yeojachingu saya mau beli jaket itu” Siwon menjawabnya.
“Oh, arasso. Mau dicoba agasshi?”
Aku mengangguk, kemudian menuju ruang ganti. Kucoba Jaket ini.
Kubuka pintu untuk menunjukkan pada Siwon, tetapi yang kulihat bukan Siwon.
“KAU?!”
“Yuri~ ah?”
“Simon-a~ Ada apa? Dan bagaimana kalau ini?” Seorang yeoja keluar dari ruang ganti disebelahku.
“Bagus sekali jagi~ Jagi, kenalkan ini Temannya sooyoung , Kwon Yuri~”
Aku tersenyum dengan dipaksakan, “Min imnida” sahut Min memperkenalkan diri
“Hai min noona ~ salam kenal yah~” yuri membungkuk, ia sopan sekali..sahut min dalam hati
“Yuri-a~ Sudah dicoba?” Siwon datang kearahku, ia tersenyum pada Simon dan Min.
“Annyeong Simon-ssi~ Annyeong Min-ssi~”
Ya, tuhaan.. kenapa Siwon dan Min memiliki chinguya seperti Simon ini???
“Ehm, oppa bagaimana?” tanyaku mengalih perhatian, soalnya Mata Siwon seperti melirik Min.




(Anngep aja bajunya kyk gitu, hhihi~)
“Eh? Bagus jagi~”
“Oh, yasudah.. Simon-oppa~ Min-eonnie~ Permisi..” ucapku lalu meninggalkan mereka –termasuk Siwon-
Kupegang dadaku yang sakit,Sabar.. hembuskan nafas Yuri…
“Bagaimana agasshi, anda mau membelinya?” sang Pelayan (?) bertanya kepadaku.
“Ne, berapa?”
“130,000 won agasshi..”
“Ini” kuberikan uangku yang pas 150,000 won kemudian pergi dari toko itu.
“Ya! Yuri-a!!” kudengar Siwon memanggilku, kuacuhkan saja.
Mendadak jalanku terhenti, sebuah tangan menghentikanku.
“apa kau.baik" saja. ucap Siwon pelan
ani oppa yuri cuma lagi ngak enak badan

“Gwenchanayo Yuri-a?” Tanyanya lembut, Kuhempaskan tangannya.
“Berhentilah oppa,dan jangan ikuti aku lagi..!”
“Kau cemburu karena aku melirik Min?” tanyanya seperti mentebak apa yang ada dipikiranku.
“Baiklah.. ia yeoja pertama yang aku cintai… tetapi dahulu. Sekarang dihatiku hanyalah ada Kwon Yuri, bukan Min”
Kulangkahkan kaki ku menjauh darinya, saat diluar mall. Aku hendak menyebrang.
TIN TIN!!
“KYAAA!!”
BRAK!
+To Be Continued+

We Got Married Part 1


We Got Married 
Cast : Yuri Kwon, Simon Park , and other.
Length : Chapter
Genre : Romance,???
 
+++++

Sinar matahari memasuki ruang kamar, seorang yeoja terbangun. Ia merentangkan tangannya.
“Hoaaam..” ia menguap, kemudian mengucek matanya yang masih tertutup. Ia melirik sebentar ke jam wekernya.
“MWO?! Jam 7 kurang 15 menit?! Aish, aku harus cepat!!” yeoja itu berlari menuju kamar mandi.
Setelah mandi, ia mengambil tas dan menuruni anak tangga. “Annyeong eomma~ annyeong appa~” yeoja itu berlari melewati eomma dan appanya yang lagi sarapan.
“noona yah~ sarapan dahulu!!” sahut adik laki-lakinya yuri langsung menyodorkan roti berisi daging kearah Yuri.
“Ne yura .. hmm.. nyam..” ia menggigit rotinya, dan berjalan keluar. “Bye yura , eomma , appa!”
Ia sudah berada dihalte bus, “Kemana, busnya huh? Bisa bisa telat nih!” tak berapa lama kemudian sang bus datang tanpa ba-bi-bu ia langsung naik.
“Hey, kau misi!” Yuri menengok seorang namja menyuruhnya untuk begeser. “Buat apa?” yuri memalingkan wajahnya.
“Aku mau duduk babo!”
“Cih, ngga usah pake babo kali! Nih!” Yuri sedikit bergeser, sehingga namja itu bisa duduk.
“Park Simon imnida..”
“Hey, siapa yang nanya namamu?!”
“aish, sudah ngajak berkenalan baik baik, dia malah jutek!” simon menyilangkan tanganya di dadanya. “Nugu?” ia sedikit memalingkan kepalanya.
“Kwon Yuri! Panggil aku Yuri!”
“Kau sekolah dimana?” simon bertanya lagi, “Wae?!”
“Ani, hanya bertanya! Kau ketus sekali!”
“Bodo amat, huh! Di Seoul National University ! Apalagi? Kau mau bertanya lagi huh?” Yuri memalingkan wajahnya, Mata simon membulat. “tingkat?”
“2, Wae?!” Yuri menatap simon tajam,
“Hahaha, ternyata aku sunbaemu” simon tertawa garing. “Bodo!”
Setelah itu sangat sunyi, mereka tidak berbicara lagi.
++++++++++++
Yuri POV
ADUH, kenapa harus ketemu namja bandel kyk dia sih?!
Sudah, jangan pikirkan dia Yul, sekarang pikirkan sekolahmu!
Kuberlari menuju kelas , mampus. Kim songsaenim baru saja masuk.
Pintu kelas juga sudah ditutup, kuketok saja.
Tok Tok Tok
“Sudah datangkah Nyonya Kwon?” Tanya kim songsaenim dgn nada menyindir.
Aku mengangguk pelan, “Arasso~ Kau kena hukuman”
“Apa itu songsaenim?”
“Ngepel lantai di sepanjang koridor, bersama salah satu senior” ucapnya halus.
Aku mengangguk lemah dan keluar kelas, mengambil kain pel.. NAMJA ITU!!
“K..Kau!!”
“Hai” Ucapnya enteng, ya. Namja ini kalau tidak salah namanya simon!
“KENAPA AKU HARUS KETEMU DENGAN NAMJA G JELAS SEPERTIMU??!”
“ya! Kwon YURI! Hukumanmu ditambah!! Bersihkan juga Perpustakaan!!” terdengar suara songsaenim, ah mampuslah aku.
“Hey, kau dihukum juga? hahaha… Sudah kita kerjakan dahulu ngepelnya!”
Aku mengambil kain pel dan mengepel seluruh lantai di koridor, Lelah~ duduk dulu deh.
“Ya, kau! Jangan malas malasan! Nanti namja yang mencintaimu malah tambah benci loh~” kudengar Simon mengomel, masa bodo.
Kuseka keringat yang mengalir di pelipisku. “Heey” ia menarik daguku, dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. OMO~ Pasti wajahku sudah memerah.
“Akan kubantu kau memberishkan perpustakaan, tetapi….” kulihat tangannya menunjukkan pipinya. “MWO?!” Ia tersenyum evil, “Tidak usah, wajahmu saja sudah seperti kepiting rebus.. cepat ngepelnya, habis itu bersih bersih di perpus!”
Tugas ngepelku sudah selesai, Tiba tiba saja simon menarik lenganku, dan rasanya berbeda sekali saat siwon menarik lenganku seperti ini.
siwon, Choi Siwon. Namjachinguku. Dia orang yang baik, dan pintar matematika.
+++++++++++
Aku berjalan lesu kearah kantin, “Ya, Yuri-a~ waeyo? Kok bisa begini?” Yoona memegang keningku.
“Lelah, tadi disuruh ngepel, sama bersihin perpustakaan.. udah gitu sama orang sial lagi” umpatku.
“Nugu?”
“Park Simon”
“Maksudmu Simon itu?” Yoona menunju ke sekelompok namja, duh dia benar salah satu dari namja itu Simon.
“Ne~”
“Dia cakep kok, kamu naksir yaa?”
“Enak aja! Mana mungkin aku menyukainya!” ku getok kepalanya pelan, Yoona meringis kecil dan mengusap kepalanya.
“Huftt.. ngga usah pake mukul segala kali~” gerutunya kesal, aku hanya bisa tertawa kecil.
“Yuri-a~” aku mendengar suara, dia Siwon.
“Siwon” kupeluk tubunya. Ia mengacak rambutku, “Bogoshippo~” lanjutnya.
+++++++++++
“Oppa~” Min memanggil Simon yg sedang asik bengong.
“Eh, ne?”
“Kau sudah makan?”
“Belum”
“Kalau begitu makanlah, aku tidak tertarik dengan makanan ini” Min menyodorkan, kotak makannya.
“Tidak usah Min~”
“Gwenchana oppa, ambilah” dengan terpaksa Simon memakan makanan Min.
Min pergi meninggalkan Simon, tetapi tangan Simon telah memegang tangan Min hingga Min terjatuh.
CUP~
Simon memberikan kotak makanan yg belum ia makan ke Min,.
“Hmmphhh, oppa! Kau ngak suka makanan buatan aku..!” Min memukul dada Simon pelan. Simon terkekeh, “Aku tidak lapar Min-ie~”
“Oppa makan atau aku nangis di sini!” mendengar ancaman dari Min, dengan segera Simon memakan makan buatan Min hingga habis
*hahahaha oppa akhirnya makan juga
- TBC-

Sabtu, 15 Juni 2013

you're sweeter than chocolate


Pairing : MinRen ( Hwang Min Hyun and Ren ) from NU'EST
Genre : Romance
Disclaimer : I have my own idea for this fiction
Warning : this is YAOI || Boys Love Boys|| so if you don't like to read my fiction, please leave my stories and never come here ^^

 ~~~*****~~~

"Taraaaaaaaaaaa! Happy Birthday , Hwang Min Hyun. Semoga kau panjang umur dan selalu tampan setiap saat." kata Ren dengan penuh semangat.
"Jadi ini alasanmu menjemputku pagi-pagi dan mengajakku ke sekolah lebih awal?" tanya Minhyun pada Ren

Ren mengangguk semangat. "Bukankah melihat matahari terbit dari atap sekolah itu pemandangan yang indah? Sayang bukan kalau dilewatkan begitu saja." kata Ren ceria. Minhyun hanya menanggapi dengan deheman dan memandang lurus ke depan. Ke arah matahari yang perlahan mulai merangkak naik.
"Minhyun-ah…mianhae…"
"
Eh?" Minhyun menatap bingung pada Ren yang kini sudah menundukkan kepalanya. Baru saja dia ceria dan semangat sekali. Kenapa sekarang mendadak murung?
"Maaf? Maaf untuk apa?" tanya Minhyun tidak mengerti
"Maaf karena aku tidak sempat menyiapkan hadiah untukmu. Padahal ini hari penting untukmu tapi aku malah tidak menyiapkan apapun. Aaahhh…aku memang payah" kata Ren merutuki dirinya sendiri
Minhyun memeluk Ren yang masih menundukkan kepalanya. "Sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Ini saja sudah cukup , kok" kata Minhyun lembut
Ren menggeleng dalam pelukan Minhyun. "Tidak bisa begitu. Aku harus memberimu hadiah" kata Ren bersikeras

Minhyun menghela nafasnya. Akan sangat sulit menghadapi Ren yang sifat keras kepalanya mulai muncul. "Baiklah. Bagaimana kalau kau memberiku cokelat?" tawar Minhyun
Ren melepaskan pelukannya. Menatap wajah Minhyun dengan intens. "Cokelat?" ulangnya
Minhyun mengangguk dan tersenyum manis. "Hu'um. Cokelat"
"Baiklaaaaaah! Cokelat akan segera datang untukmu , Prince Hwang!" teriak Ren ceria.
"Minhyunnieee….kenapa melamun?" tanya Ren menghampiri sang kekasih yang kini duduk di bangku taman. "Katakan padaku. Ada apa? Apa yang terjadi?" kata Ren khawatir
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang bingung" jawab Minhyun lesu

Ren sedikit memiringkan kepalanya agar dapat melihat wajah Minhyun dengan jelas. "Bingung kenapa?"
 "Aku bingung akan melanjutkan pendidikan ke universitas mana. Aku ingin melanjutkan ke universitas khusus musik. Tapi Appa menginginkanku untuk masuk ke universitas kedokteran. Appa ingin aku menjadi seorang dokter seperti dirinya" jelas Minhyun makin lesu
Ren mengangguk mengerti mendengar penjelasan sang kekasih. "Hmm menurutku sebaiknya Minhyun masuk ke universitas khusus musik saja. Minhyun kan bisa main alat musik apa saja. Suara Minhyun juga bagus. Kalau Minhyun masuk ke universitas khusus musik , Minhyun kan juga bisa sekalian berlatih vokal dan kemampuan Minhyun dalam bidang musik juga semakin meningkat. Bukankah cita-cita Minhyun ingin menjadi seorang penyanyi? Masuk ke universitas khusus musik adalah pilihan yang tepat" jelas Ren panjang lebar

Minhyun mengerjap mendengar penjelasan Ren yang menurutnya terlalu panjang itu. Tapi tak dapat ia sangkal. Bahwa apa yang dikatakan Ren itu adalah benar. Seulas senyum manis terkembang di bibirnya. "Benar juga. Baiklah! Aku akan melanjutkan pendidikanku ke universitas musik" kata Minhyun mulai semangat

Ren tersenyum senang melihat kekasihnya yang mulai bersemangat. "Apa kau menginginkan sesuatu? Maksudku sesuatu untuk membuat perasaanmu jadi lebih baik"
Minhyun tersenyum manis menatap Ren. "Bagaimana kalau kita makan ice cream cokelat?"
"Apa disini tidak ada minuman atau makanan yang terbuat dari cokelat?" tanya Minhyun seraya mengedarkan pandangannya pada penjuru café
"Ini café khusus untuk kopi , chagi. Jadi hanya menyediakan makanan dan minuman yang terbuat dari kopi" kata Ren menjelaskan. Minhyun menghela nafasnya kecewa. "Kenapa kau begitu menyukai cokelat?" tanya Ren penasaran

Minhyun mengetuk-ngetukkan telunjuknya pada dagunya. Terlihat seperti berpikir untuk mencari jawaban yang tepat. "Karena cokelat itu berbeda" kata Minhyun akhirnya. "Cokelat memberikan sensai yang berbeda saat cokelat itu melumer di lidah. Memberikan rasa nyaman , hangat , dan juga cinta. Semuanya terasa memenuhi rongga tubuh saat cokelat itu melumer. Cokelat itu seperti magis. Memiliki daya tarik tersendiri. Cokelat itu juga seperti ekstasi. Sekali kita merasakannya , maka kita akan ketagihan dan terjerat dalam lingkaran kokoanya" jelas Minhyun

Ren mengerjap mendengar penjelasan Minhyun yang begitu dalam memaknai cokelat. Rupanya kekasihnya
ini begitu memahami tentang cokelat. Ren menundukkan kepalanya. Entah kenapa ia merasa kesal dan jengkel setelah mendengar penjelasan Minhyun tadi.
"Kau kenapa?" tanya Minhyun yang menyadari perubahan pada raut wajah Ren
"Aku merasa…iri" kata Ren lirih
"Iri? Dengan siapa? Kenapa?" tanya Minhyun bingung
Ren menghela nafasnya perlahan , kemudian mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Hanya saja….rasanya…aku iri terhadap cokelat. Mungkin terdengar kekanak-kanakkan , tapi aku betul-betul merasa iri terhadap cokelat"

"Hah? Bagaimana bisa?" tanya Minhyun semakin bingung
Ren menghela nafasnya sekali lagi. "Sepertinya kau begitu memahami tentang cokelat. Begitu pula dengan cokelat yang selalu bisa membuatmu tenang. Rasanya aku ingin menjadi cokelat yang selalu kau suka. Cokelat yang selalu bisa membuat perasaanmu menjadi lebih baik. Cokelat yang selalu kau rindu disaat apapun. Cokelat yang selalu kau ingat rasa manisnya , dan juga cokelat yang selalu bisa membuatmu ketagihan. Rasanya aku ingin menjadi cokelat yang seperti itu" kata Ren lesu
Minhyun tersenyum mendengar penuturan Ren. Sebetulnya ia ingin sekali tertawa mendengar penuturan Ren yang menurutnya terlalu kekanak-kanakkan. Rupanya pemuda berambut pirang itu merasa tersaingi dengan cokelat , huh?

Minhyun beranjak dari duduknya dan duduk disamping Ren. Tangan kirinya melingkar pada pinggang Ren. Minhyun mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman manis pada bibir mungil Ren. Melumat bibir tipis itu dengan lembut.
Minhyun melepaskan tautannya dan memandang wajah Ren dengan intens. "Untuk apa kau ingin menjadi seperti cokelat kalau kau sendiri jauh lebih manis daripada cokelat" kata Minhyun mengerling menggoda Ren
"Apa?"

"Bagiku kau jauh lebih manis daripada berbagai macam jenis cokelat yang ada di dunia ini. Kau punya daya tarik tersendiri yang jauh lebih kuat daripada cokelat. Kau punya daya magis tersendiri yang membuat semua orang terpesona padamu , termasuk aku. Kau juga seperti ekstasi. Sekali jatuh cinta padamu , maka tidak akan bisa terlepas selamanya. Jadi untuk apa kau ingin menjadi seperti cokelat kalau kau sendiri lebih berharga daripada jutaan cokelat?" kata Minhyun tersenyum
Semburat merah menghiasi kedua pipi Ren saat mendengar penuturan sang kekasih. Minhyun mendekatkan wajahnya lagi pada Ren. Ren yang mengerti maksud dari sang kekasih , dengan senang hati menutup matanya lagi. Bersiap menyambut ciuman penuh cinta yang ditawarkan kekasihnya.
Ren mengalungkan tangannya pada leher Minhyun saat lumatan di bibirnya semakin intens. Dalam ciumannya
 , Ren tersenyum senang.
Benar. Ia tidak perlu menjadi seperti cokelat. Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Karena bagi Minhyun ia jauh lebih manis daripada sejuta cokelat. Karena bagi Minhyun , dirinya adalah cokelat yang paling memabukkan di dunia ini.

Bad Girl


Main cast : Ren NU’EST
Genre : Thriller


Bosan.
Tiap hari kesekolah mulu , aku bosan.
Tapi, kalau tidak sekolah, itu sama saja aku tidak makan. Bagaimanapun, Inveartible tanpa manusia adalah hampa. Aku harus tetap makan jantung manusia untuk hidup.
BRUKK!!!
Seorang gadis menabrakku hingga ia terjatuh. Lemah sekali. Aku saja yang jadi korban tabrakannya tetap berdiri tegak.
Kulihat, buku yang ia bawa tadi berhamburan.
“Maaf….” Ucapku acuh, masih berdiri menatapnya yang kepayahan memunguti satu-persatu buku pelajaran yang ia bawa.
Ia berdiri, lalu menatapku, “tak apa….” Ia menatapku dengan mata berbinar, “Wah….”
Kau mau bilang “kau cantik sekali” padaku? Aku tunggu, supaya nanti aku bisa makan malam.
“Kau tampan sekali….”
Aku tercekat. Dia bilang apa tadi? Tampan?
“Kau bilang apa?” ucapku sambil mengulangi pertanyaan yang berkeliaran di benakku. “Tampan?”
“Iya…. Tampan…. Kau lelaki kan?” ucapnya dengan riang. Satu hal yang ada di benakku untuk menggambarkan gadis yang kini terkagum-kagum akan wajahku : ANEH.
“iya….” Aku kembali bersikap acuh padanya.
“Siapa namamu?”
Aku menghela nafas. “Ren….”
“aku Sooyoung….” Ia tersenyum kegirangan. “salam kenal….”
Apa maksud dari orang ini?
“Sooyoung…. Cepat kemari…. Aku butuh buku itu….” Seseorang memanggilnya.
“Sepertinya aku sudah harus pergi…. Lain waktu kita lanjutkan ya?”
Dengan riangnya, ia pergi menjauhiku. Aku tersenyum sinis, setelahnya sedikit murung.
Dia tidak mengejekku.
~***~
Kali ini aku membunuh kedua korbanku saat sore. Yang pertama, bernama Choi Jin Wook. Manusia tengik yang naas ini telah melempariku dengan telur busuk dan mengenai blazer mahalku yang baru saja kucuci.
Dan yang kedua, bernama Tak Goo. Orang tuanya yang memberi nama mungkin menaruh harapan besar pada anaknya untuk menjadi orang baik yang di agung-agungkan, bisa dilihat dari namanya.
Tapi kenyataannya?
Dia orang jahat yang sudah mengataiku jelek. Dia juga mengejekku sebagai “monster tanpa wajah”. Heh?? Memang dimana matanya? Bagaimana mungkin dia berani bilang seperti itu?
Aku membawa mereka ke belakang gedung sekolah. Hari sudah mulai petang, hingga pemandangan di hutan yang ada di belakang kami pun hanya berupa siluet-siluet hitam. Sekolah kami tak ada lampu, jadi keadaan sekarangbenar-benar mencekam.
“Kau….” Ucap Tak Goo terbata-bata. “siapa?” tanyanya. Ya. Tentu saja wajahku tak terlihat.
“Aku?” aku langsung mengangkat tangan kananku yang sudah berubah menjadi mengerikan. Bentuknya berbeda dari biasanya. Cakar hitam, dan tepat di tengahnya seperti ada pisaunya, kalau aku ingi mengeluarkannya. Kalau tidak, aku tak akan menggunakannya. Aku hampir menjadi inveartible sesungguhnya.
“Coba tebak, siapa aku?” ucapku lagi. Mereka berdua bertatapan. Kulihat, jantung keduanya berpendar. Ah, bonus!! Tapi, butuh 100 jantung lagi untuk menjadi Inveartible sesungguhnya. Bagaimana ya caranya?
Sudahlah, habisi saja dulu mereka.
“Aku….” Aku berjongkok di depan mereka, “Inveartible….”
“AARGGGHHH!!!!”
Saat mereka bangun untuk berlari, kedua tanganku langsung menarik kerah baju mereka dengan kasar, lalu menariknya dan membenturkan kepala dari keduanya hingga mereka merasa pusing. Aku tersenyum sinis.
“siapa diantara kalian berdua yang mau dibunuh terlebih dahulu?”
Yang kurasakan saat aku mencengkeram keduanya hanyalag gemetar ketakutan dari mereka. Dasar.
“Tak ada yang menjawab?” ucapku. “baiklah…. Tak Goo yang akan kubunuh duluan….”
Kulepaskan tanganku dari kerah baju Jin Wook, lalu menendang kepalanya hingga pingsan. Pandanganku beralih pada Tak Goo, tersenyum sinis. Bertepatan dengan itu, bulan purnama yang tertutupi mendung kini sinarnya kembali menyemburat di antara kami hingga kami bisa melihat wajah satu sama lain. Ia terlihat terkejut. “Ren?”
“Iya?” ucapku sambil menyeringai. Aku mendorongnya hingga jatuh tersungkur. Wajahnya mengenai bebatuan krikil yang ada di sekitar kami. Oh, kasihan sekali.
Aku menjambak rambutnya hingga rambutnya malah lepas dari kepalanya sebanyak genggamanku, membuat kulit kepalanya berdarah.
“ARGGHH!!”
Aku segera mencengkeram kerah baju bagian belakangnya dengan kuat. Setelah ia berdiri dengan tegak, kulihat wajahnya terdapat bercak-bercak darah. Wajar, wajahnya terkena kerikil tajam.
“Kau kan, yang mengejekku Monster tanpa wajah?” aku tertawa kecil.
“A-A-ampun….”
“Ampun? Maaf maksudnya?” aku menyeringai, setelahnya memasang wajah marah. “Dasar bodoh!!”
Aku melempar tubuhnya ke pohon rindang yang ada di dekatku. Ia jatuh merosot, kulihat wajahnya yang ketakutan.
“Sekarang aku yang akan merubahmu menjadi Monster tanpa wajah….”
Aku mencakar wajahnya hingga membentuk 5 garis horizontal. Dari garis-garis itu mengalir banyak darah hingga wajahnya tak berbentuk.
“sekarang, kau yang jadi Monster tanpa wajah….” Aku menyeringai.
Dia memegangi wajahnya sambil mendesah kesakitan. Aku tersenyum puas. Setelahnya, aku kembali menghampirinya dan menjambak rambutnya, lalu membenturkan wajahnya ke pohon.
“ARGH!!” darahnya kembali mengucur deras. Aku semakin bersemangat untuk membenturkannya.
Setelah ia berhenti teriak (mungkin ia lelah berteriak), aku mendorongnya ke tanah.
“Ada kata terakhir?” tanyaku sambil berjongkok di sampingnya.
“Hh…. Hh….” Malah gemetaran. Sudahlah. Langsung habisi saja.
Aku menancapkan tanganku di punggung hingga menembus tulang rusuk, lalu ke jantung. Aku menariknya dengan keras, hingga darahnya pun bermuncratan membasahi rompi rajutku yang berwarna krem. Aku tertawa, lalu mengoyak jantungnya dengan rakusnya.
Seperti biasa, sisa jantung yang ada kulemparkan ke bagian belakang kepalanya yang sudah tak berambut. Akupun mengalihkan pandanganku ke Jin Wook. Lelaki yang menurutku terlalu tinggi. Aku sebahunya.
Biarlah, siapa peduli?
Aku menjambak rambutnya yang panjangnya sebahu (layaknya pendekar jepang jaman kuno) dengan kasar, hingga membuatnya sadar dari pingsannya. Ia terbelalak menatapku. “R-Re….”
“Ren…. Bukan R-Ren….” Ucapku lagi. “kenapa sunbae? Kaget?” aku tersenyum sinis. Ia terlihat sangat ketakutan, apalagi dia berdiri dalam keadaan berdiri miring. Sudah kubilang kan tadi? Dia lebih tinggi dariku?
“Sunbae…. Hari ini hari terakhirmu hidup…..” perkataanku barusan membuatnya takut. Begemetar ketakutan. “Ada kata-kata terakhir?”
“Apa?”
“Aku anggap tidak ada….”
Tangan kananku bergerak menusuk perutnya hingga darah keluar deras dari mulutnya, beserta matanya yang melotot kesakitan.
“Hahaha…. Indah sekali….”
Aku kembali menghujatkan cakar ini ke dadanya hingga pakaian yang ia kenakan robek.
“Hasrat ingin menyiksa dirimu sudah tidak ada…. Maka dari itu, langsung ku bunuh saja ya….”
“Ja~”
JLEB!!
Cakar tajamku ini menusuk dada kirinya dan menarik paksa jantungnya dengan liar. Tangan kiriku yang sedari tadi menjambak rambutnya pun mendorongnya hingga jatuh tersungkur. Cowok sok keren yang tadi pagi melemparkan telur busuk ke kepalaku kini tewas dengan indahnya di mataku.
Aku kembali mengoyak jantung yang kini ada di tanganku. Setelah aku memuaskan rasa laparku, jantung itu kulemparkan tepat mengenai matanya yang terbelalak kaget.
Saat aku berjalan sambil bersiul menuju gerbang sekolah sambil membersihkan bibirku yang belepotan darah dengan punggung tanganku, aku terkejut. Gadis yang tadi pagi menabrakku kini berdiri didepanku sambil membawa lentera di tangan kanannya dengan tatapan mata kosong.
Tanganku ini bergerak untuk mencakarnya, tapi pandangan matanya seperti mengendalikan aliran darah di tubuhku untuk tidak bergerak.
Aku melihat di bagian dada kanannya, susunan tubuhnya berubah menjadi susunan-susunan puzzle yang berterbangan hingga berlubang.
“Bersembunylah disini….”
“Apa?”
“Sooyoung….” Suara seseorang terdengar memanggil. Aku semakin panik.
“Cepat sembunyilah….”
“Tapi….”
Tak ada waktu….”
Aku bergegas berlari menghampirinya.
“Tapi…. Bagaimana caranya masuk?”
“bilang saja kalau kau ingin masuk….”
Aku tidaktahu apa yang dia ucapkan itu hanya asal atau sungguhan. Akupun mengucapkannya, “aku ingin masuk….”
BRUG!!
Aku mengelus kepalaku pelan. Aku terjatuh dari keting….
Hei!!
Aku benar-benar masuk ke tubuh gadis itu!!
Sebenarnya, gadis ini siapa?
Manusia biasa?
Kenapa dia bisa melakukan ini? Dia Inveartible?
Bukan bukan…. Aku tak mencium bau Inveartible sama sekali dari tubuhnya. Siapa sih?
Siluman? Monster?
“Kau boleh keluar sekarang….”
Nah kan?
Setelah melamun dengan beribu pertanyaan di benakku, tak terasa, dia sudah berhasil mengusir orang yang tadi memanggilnya.
Dan sekarang, tiba-tiba aku berada di luar tubuhnya.
“Kau~”
“tenang saja….” Ia tersenyum. “aku tak akan bilang ke siapa-siapa akan hal ini….”
Biasanya aku akan langsung membunuh orang yang tahu pembunuhan yang kulakukan. Tapi, entah kenapa, kali ini langkahku tercekat. Akupun berjalan menjauhinya, berusaha mencerna apa yang terjadi.
“Saranghaeyo….”
Aku tercekat. Dia bilang apa barusan?
Aku membalikkan badan. Dia sudah tak ada di sana.
~***~
“Kau jatuh cinta pada seseorang yang tak jelas asal-usulnya? Tumben….” Ucap Baekhyun sambil tersenyum meledek. Huh!! Dia tak tahu rasanya kan?
“Aku~”
“Kau jatuh cinta padanya karena apa? Karena dia bilang kau tampan?” kali ini Krystal duduk di sampingku sambil menyenggol lenganku.
“Benarkah hanya itu?” kali ini Jeongmin yang mengucapkan pertanyaan. Sial!! 3 anak ini!!
“bukan!!”
“Lalu apa?” desak Baekhyun.
“dia baik padaku. Padahal dia tahu aku Inveartible. Tapi dia tidak berusaha berteriak, malah membantuku bersembunyi….”
“tapi bukan berarti dia baik pada Inveartible kan? Mungkin dia Extearmined?”
“bukan. Aku yakin bukan!!”
“Bukan? Darimana kau tahu?”
“kalau dia Extearmined, bukankah dia akan membunuhku saat itu juga dengan tombak perak?”
Ya. Inveartible akan mati di tangan manusia yang bersenjatakan tombak perak. Hanya itu kelemahan kami.
Semua terdiam.
Beberapa saat kemudian, Baekhyun buka suara, “kau tidak mencium aroma Inveartible dari tubuhnya?”
Aku mengangguk.
“kau juga tidak mencium bau siluman berjenis selain Inveartible di tubuhnya?”
Sekali lagi, aku mengangguk.
“berarti, dia monster….”
“apa?” aku, Krystal dan Jeongmin terbelalak kaget mendengar ucapan Baekhyun. Baekhyun hanya menjawab pertanyaan kami dengan anggukan, lalu menjelaskan pada kami,
“siluman itu bisa berubah wujud semau mereka. Yang mereka makan pun selalu manusia. Kalau monster, tujuan mereka hanya menghancurkan manusia, tidak sampai memakan mereka. Mereka juga memusuhi siluman, termasuk Inveartible. Dan Monster itu, biasanya menggunakan kulit manusia yang sudah mati, yang sudah diawetkan untuk penyamaran mereka. Hingga bau monster mereka tertutupi oleh kulit manusia yang mereka pakai….”
“bagus!!”
Aku mendapati sesosok pria yang tak asing lagi bagi kami. Ketua Inveartible. Ugh!! Sial!! Setelah ini, pasti dia akan memuji kehebatan Baekhyun lagi, dan membanding-bandingkan kami berdua.
“Kau tahu dari mana Baekhyun?”
“Aku hanya sekedar mencari informasi….”
Kulihat, ketua Inveartible menepuk-nepuk pundak Baekhyun sambil tersenyum. Setelahnya, ia kembali memasuki ruangannya.
Sudah? Hanya itu?
“makanya, besok kau pastikan, dia itu monster pemakai kulit manusia atau memang manusia biasa….” Ucap Jeongmin “sok” menasihati. Tapi memang ada benarnya sih.
~***~
Esoknya….
Kekhawatiran teman-temanku sungguh sangat memalukan. Monster pemakai kulit manusia kata mereka? Aku baru pertama kali ini mendengar hal bodoh semacam itu.
“Sudah kau dapatkan lelaki berwajah cantik itu?”
Aku kaget mendengar suara berat tengah berbicara tentangku. Aku menoleh. Di ujung koridor. Sooyoung? Bersama lelaki tua itu?
Aku langsung menggenggam seluruh benang gaib di tanganku, supaya aku tak terlihat oleh mereka. Aku berjalan cepat menghampiri mereka. Dan kini, aku berdiri tepat di antara mereka.
“Sudah, ketua. Benar dugaan anda, dia Inveartible….”
Apa sih yang mereka bicarakan?
“lalu, harus aku apakan lelaki itu?” tanya Sooyoung lagi.
“terserah kau. Pesaing monster itu memang harus diperlakukan secara keji….”
Hah? Monster?? Jadi, benar kata Baekhyun, dia monster? Dan dia berani menipuku? Kurang ajar!!
“tapi, kau harus melakukannya dengan hati-hati. Dia itu Inveartible yang paling kuat. Salah sedikit, kau bisa mati….”
“iya….”
Aku berlalu meninggalkan mereka. Kalian yang akan mati. Seenaknya saja mempermainkan Inveartible.
~***~
Malamnya….
“Ren…. Kita mau kemana?”
Tanya Sooyoung saat ku bonceng. Aku beralasan untuk mengajaknya kencan, padahal, kubawa ke pemakaman.
“Ke tempat bagus….”
Saat sampai, aku menoleh dan tersenyum padanya. “turun…..”
Bahkan tanpa sedikit kecurigaanpun, dia mau turun. Dasar!! Monster bodoh!! Gampang sekali dikelabui.
Aku masih duduk di atas motor. Seperti biasa, aku mengerem ban depan dan mengangkat bagian belakang motorku dan menampar gadis itu dengan roda blakang motor ini. Ia terpelanting jauh. Kulihat, tubuhnya terkena nisan yang berbentuk salib. Huh!!
Aku turun dan berjalan menghampirinya yang menggeliat kesakitan. Kulit manusia yang ia gunakan robek. Sedikit demi sedikit, ia menampakkan wujud aslinya. Laba-laba super besar!!
Aku tersenyum sinis sambil mendongakkan wajahku untuk menatap matanya.
“jadi, kau sudah tahu kalau aku ini monster?”
“aku tidak seperti manusia biasa yang bodoh. Jangan remehkan Inveartible….”
“apakah siasatku untuk menjadi wanita cantik dan berpura-pura menyukaimu juga gagal?”
“awalnya tidak. Selanjutnya gagal….”
Aku mengarahkan cakarku ke perutnya. Dia berusaha mengendalikan aliran darahku, tapi amarahku bisa mengalahkan segalanya. Aku melompat, dan mencakar wajahnya.
“ARGGGHHH!!!”
Aku kembali melompati bagian tubuhnya yang lain. Ya, kecepatan melompatku semakin bertambah cepat. Aku yakin, sebentar lagi aku akan menjadi Inveartible sesungguhnya.
Aku mencakar kakinya yang berbentuk seperti pipa. Ia berteriak dan menggerakkan kakinya untuk membuatku pergi, dan tentu saja, aku berhasil mencengkeram kuat kakinya. Bahkan, aku berhasil membuat kakinya patah dalam satu gerakan hingga darahnya keluar. Darahnya berwarna…. Hijau? Eek…. Menjijikkan.
Aku meloncat ke kaki lainnya, lalu mematahkannya dengan cara yang sama, begitu seterusnya hingga ia tak punya kaki. Disekelilingnya terdapat kaki-kaki yang berserpihan dan darah hijau yang berceceran.
“hh…. Hh…. Kurang ajar!!”
Aku mengeluarkan pedang di kedua tanganku yang ada di telapak tanganku, lalu mengarahkannya ke tubuh monster itu, ke atas dank e bawah. Ia terbelah menjadi dua, dan tewas seketika.
Saat aku membalikkan badan, aku melihat sesosok lelaki bertubuh kekar yang tadi pagi berbicara dengan Sooyoung. Wajahnya merah padam, marah.
“kau sudah membunuh anak buahku….”
“Eugh… So?” aku tersenyum sinis, lalu menggerakkan pedangku lagi dengan cara yang sama. Ia tewas seketika.
Aku memandangi 2 monster yang sudah kuhabisi malam ini. Seharian memikirkan mereka, aku jadi tak sempat mencari manusia untuk dimakan. Kedua monster ini menyusahkan saja.
Aku berjalan santai di antara darah mereka yang menjijikkan itu, lalu kembali menghampiri motorku, dan pergi pulang ke rumahku.
~***~
Aku melangkah gontai saat pulang ke rumah.
“Ini!!”
Aku menangkap jantung segar, hanya bagian kirinya. Aku menatap Baekhyun yang tadi melempariku.
“kau habis membunuh kedua cecurut itu kan?”
“darimana kau tahu?”
“ada deh….”
Aku tersenyum, lalu memakannya. Setelahnya, aku kembali menatapnya, “jangan bilang pada ketua ya?”